Rabu, 22 November 2017

CERPEN LUCU TERBARU TENTANG PENGALAMAN PRIBADI SESEORANG

Sang Idola (Oleh : Arina Manasikana)

Idola itu bagaikan bintang kan slalu bersinar

Mereka berkilau di atas

Mereka harus ingat

Banyak beribu bintang kecil  memandanginya

Disaat ayam berkokok dengan suara khasnya “kukukk  kriuuuuk........kkk” Manakala matahari mulai datang dengan keindahan sinarnya.Suasana pedesaan yang nyaman,tenang,dan asri, merupakan wujud kebesaran tuhan semesta alam kepada para umatnya. 

Mata yang masih sangat melekat dan hampir susah untuk dibuka, keadaan udara pagi yang masih begitu dingin menusuk ke tulang. Terlihat anak perempuan yang masih tertidur di atas ranjangnya sembari memegang  erat-erat selimut yang berada diatas badannya.Suara jam klasik tepat diatas dinding kamar “Kiiikuuk kiiikuuuk kikukk....”.
            
Terdengar suara perempuan setengah baya memanggil “Ndok cepat bangun,inikan sudah pagi,apa kamu dak sekolah tho...?” ( Ibu Iyem menarik selimut anaknya). Terasa separuh nyawaku masih melayang di bawah alam sadarku. Aku paksakan membuka mataku “Aduh Buk,inikan hari minggu tho...!!!, masa ibuk nyuruh  Maryam ke sekolah”  (Maryam sambil memukul dahinya dengan tangan). “ Maaf ndok ibuk lupa,tapi kan kamu sebagai anak perempuan harus lebih awal bangunnya”. 

Maryam yang merasa bosan mendengar ibunya berbicara menjawab “Nggeh buk, Ini Maryam sudah bangun,terus  Maryam mau di suruh apa tho?” Dengan perasaan sedikit kesal. Ibu Iyem pun menyuruh Maryam untuk bersih-bersih rumah. “Ini lo ndok,keadaan rumahmu kotor masa kamu gak malu kalau temanmu datang main kesini,terus kondisi rumahmu kayak kapal pecah”. “Nggeh,Maryam mandi dulu nanti dibersihkan semuaanya sampai kinclong”. Maryam  segera mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi.
            
Setelah Maryam mandi, ia melakukan pekerjaan yang di suruh oleh ibunya. Bukanya Maryam menyapu lantai,  malah ia gunakan sapu yang ia genggam untuk mikrofon bergaya ala penyanyi idolanya “You know me so well ...Girl i need you...Girl i love you ...Girl i heart you” ( Mengangkat sapu sampai keatas berteriak dengan suara merdu katanya). Maryam mengira bahwa suara lagu yang ia nyanyikan begitu bagus dan itu membuat ia berteriak sekeras mungkin sampai ibu Iyem datang menemui Maryam “Astagfirullah ndok,opo to kowi kie,kok enek-enek wae tingkahmu?”. Maryam menggaruk kepalanya “He.he..ibuk iku piye to, niki lagune apik tenan di tambah suarane Maryam sing merdu banget”. Bu Iyem pun terheran-heran melihat kelakuan putrinya “ Karepmu wae ndok,sing penting pekerjaan rumahmu kudu rampong”. Maryam tertawa sambil memandang wajah Bu Iyem “ Beres deh buk...!”
            
Tak terasa matahari telah tertidur bergantikan kilauan bintang-bintang di atas langit.Maryam memandangi langit, Terdengar dering suara dari handphonenya bernada alunan lagu kesukaan Maryam. Teryata ia menerima satu pesan dari salah satu teman sekelasnya” Hai maryam nanti jam 7 tepat, jadi kan pergi ke alun-alun,aku wes dak sabar ni,nanti kumpul di tempat kayak biasanya”. 

Aku pun kebingungan sendiri “ Ya allah apakah hari ini aku bakal benar-benarl ketemu dengan idolaku”. Maklum saja ia dengan teman-temanya mendapat informasi dari sella bahwa hari ini boy band idolanya akan melakukan show di alun-alun dekat rumahnya. Tanpa memastikan informasi itu benar atau salah Maryam bersama teman-teman lainya langsung berangkat menuju tempat idolanya akan datang. Dengan penuh rasa bahagia Maryam tak bisa berkata-kata lagi.
            
Namun apa daya saat sampai di tempat itu,apa yang ia lihat tidak seperti yang ia bayangkan. Terasa hatinya dipenuhi rasa kekecewaan yang mendalam “ Astaga ini apaan sih ya gusti...”. Teman Maryam lainnya hanya bengong melihat kenyataan yang terjadi pada mereka. “ Waduhhh..Ini sih bukan shownya SMASH,tapi ini shownya sepedah montor smash”. 

Maryam pun memukul jidatnya “ Dasar bodoh banget kita, dengan mudahnya kita percaya dengan omongan sella”. Akhirnya penyesalan dan kekecewaan yang ia rasakan saat itu. Tapi masalah yang terjadi bukan disitu saja, Maryam baru menyadari bahawa handphone yang ia bawa hilang. “Ada apa Mar,,,?” ujar Zahra. Dengan nada panik maryam menjawab “Hp ku dak ada iki”. “Lho kok bisa,emangnya tadi kamu taruh mana hpnya”. “Ya..aku taruh di kantong,apa mungkin hpku terjatuh di alun-alun tadi”.
            
Dinginya malam mulai datang, “Terus gimana ni Mar,kita cari dulu aja atau kamu hubungi nomer hp mu” Zahra menenangkan Maryam yang panik. “ Ini pakek hp ku aja kamu hafal kan nomer hp kamu?” Anna mengulurkan hp nya kepada Maryam. “Hemm...” jawab Maryam singkat. Namun hasilnya zonx, Maryam harus pulang ke rumah dengan rasa penuhke kecewaan.
            
Pagi yang begitu cerah, tapi kala itu tak secerah hati dan perasaan Maryam. Maryam merasakan penyesalan karena kejadian tadi malam.Hatinya saat ini bagaikan pecahan kaca yang berceceran. Entah mengapa ia begitu sangat kesal dan ingin marah. Disaat Maryam berjalan menuju kelas “ Hai uweslah jangan dipikirin wae kajadian tadi malam” ( Zahra menepuk pundak Maryam). Maryam pun terus berjalan tanpa menghiraukan Zahra.
            
Bel sekolah pun berbunyi “ Kring...kringgg....krinngg...” Semua murid masuk ke kelas. Saat semua teman Maryam masuk ke kelas ada salah satu temanya bertanya pada Maryam “Mar...tadi malam lihat  shownya sepedah motor SMASH tho...?” ( Dengan nada menyendir). Maryam hanya menjawab dengan senyuman. 

Dan beberapa teman Maryam pun menertawakan “Wk...wk..wkkkk”. Anna datang menghampiri “ Uweslah jangan begitu dong kalian”. “Iya..iya..kita hanya bercanda aja alias ingin mastiin kejadiannya gitu” Ujar Fathul. Maryam menjawab “ Dasar lho pada...namanya juga idola,awas aja kalau suatu hari aku bisa benar-benar ketemu mereka,lho pada bakal nyesel udah menertawakanku”. Suasana menjadi hening karena menyesal menertawakan Maryam samapi membuat Maryam meneteskan air mata.

            
Akhirnya pun Maryam mengiklaskan kejadian tadi malam yang ia alami. Ia menjadikan kejadian itu sebagai pengalaman berharga dalam hidupnya. Memang biasanya seorang fans rela melakukan apa saja demi untuk bertemu dengan sang idolanya.Begitu pun yang terjadi pada Maryam. 

Kini ia akan lebih hati-hati dalam menerima informasi dan ia akan memastikan terlebih dahulu kebenaran informasi yang ia terima.Maryam tertawa bersama Anna dan Zahra “Ha..ha..ha..ha...kita ni aneh-aneh aja,masa kesana bukanya ketemu SMASH malah ketemu sepedah montor”. Mereka bertiga tertawa sambil berbaring di atas rumpu hijau sembari menikmati kesejukan angin siang hari di bawah pohon yang menari-nari terhembus semilir angin.
Read more

Sabtu, 18 November 2017

CERITA LUCU TERBARU TENTANG PENGALAMAN PRIBADI

Aku, Kau dan Setan Karya Mayank Putri Anjani

Ini kisah beberapa tahun yang lalu, ketika saya masih sekecil upil dan saudara sepupu saya sudah segede pete. Kami berdua berkumpul dengan para komunitas anak-anak gaul pada jamannya untuk sekadar bercerita-cerita tentang hal-hal yang tidak terlalu penting untuk diceritakan. Bahasa kerennya mah gosip gitu.

Mulailah, percakapan antara mas-mas, dan saya di depan rumah dekat hutan bambu pada malam hari:

“he,nang kene loh, jere akeh setanne. Nuk greng kui loh”  Mas yogi, sepupuku, mulai bercerita. Dalam bahasa indonesia itu berarti “Hei, disini katanya banyak setan. Di hutan bambu itu loh”
            
“Loh iya? Mosok? Ga percaya aku” yang lain menyahuti.
            
“loh ya, dibilangin kok, disekitar sini itu banyak gituannya.” Mas yogi mulai meyakinkan.
            
Anak-anak lainnya mulai terdiam, termasuk aku yang notabene memang penakut.

“Mas loh, aku merinding ini. Masuk yuk” aku mengajak mas yogi masuk kerumah.
            
“ya wes, bentar ya, mau nganterin putri sebentar”

Aku dan Mas yogi segera masuk, tapi Mas Yogi segera menarikku masuk ke dalam kamar.
            
“Dek, tolong ambilin selimut putih dong, sekalian karet, ya”
            
“Loh, buat apa mas” tanyak bingung
            
“wes, to. Jupukno disik”dalam bahasa indonesia “sudahlah, ambilkan dulu”
            
Aku langsung mengambil pesanan Mas Yogi dan menuruti semua instruksinya. Ternyata ia ingin mengerjai teman-temannya dengan berdandan layaknya pocong. Dia keluar melalui pintu samping dan muncul seolah-olah dari dekat hutan bambu itu. Sedangkan aku sendiri hanya melihat dari kejauhan, karena memang aku sangat penakut.
            
Pada saat yang sama, mbak dina, teman sepermainanku berdiri disampingku. Dengan senyum tersungging di bibirnya, ia bertanya.
            
“Mas mu ngapain dek?”
            
“Entah,ngerjain anak-anak itu” jawabku enteng.
            
Mbak Dina tersenyum dan melangkah pergi.
            
Anak-anak resah menunggu Mas Yogi yang tak segera kembali ke luar. Tiba-tiba seonggok makhluk putih yang berbentuk seperti permen rasa susu melompat-lompat menuju kearah mereka. Sontak mereka berteriak dan lari kesegala penjuru.
            
“Ssee see SEETAAAAANN”
            
“POCONG !!!!”
            
Semua berteriak dan berlarian masuk ke rumah. Berpamitan padaku dan langsung pulang.
            
“Huaaahaaahaaa, salah sendiri dibilangin gak percaya” teriak Mas yogi yang masih memakai kostum pocongnya.
            
Namun, muncul sesosok gadis berambut panjang dan berbaju putih dibelakang Mas Yogi, rambutnya yang panjang menjuntai kedepan, ia hanya diam menatap Mas Yogi yang masih saja tertawa.
            
“Dek, lihat mereka, lucu ya? Hahaha” Mas Yogi masih saja tertawa, sedang aku terdiam dan menunjuk-nunjuk sesuatu di belakangnya.
            
“opo, to?” tanyanya bingung
            
Perlahan ia menoleh ke belakang dan akhirnya dia melihat seorang gadis berambut indah terdiam di depan matanya.
            
“nduk, kkowe kkok gak ngomoong lek ono mbak Kun to!!”  dia berbicara terbata-bata yang dalam bahasa indonesia berarti “Nduk,kamu kok gak bilang kalau ada mbak kun sih?”
            

Dia langsung melompat sekuat tenaga menuju kerumah, sedangkan Mbak Kun masih terdiam menunggu Mas Yogi masuk ke dalam rumah.
            
Aku yang masih terdiam, bingung dengan kemunculan Mbak Kun seakan ingin membalas dendam karena Mas Yogi telah mempermainkan kesetanannya. Dengan wajah masih shock, aku masih tetap menatap Mbak Kun yang saat ini menyibakkan rambutnya ke belakang, menatapku tersenyum, lalu pergi masuk ke dalam hutan bambu kembali.
            
“Loh, Bentar, tadi kan Mbak Dina, terus? Tadi? Yang ngomong sama aku? Itu? HUAAAAA MAS YOGI !!!! HUAAAAAA”
Read more

Rabu, 15 November 2017

CERPEN LUCU PENGALAMAN PRIBADI BARU

Cewek Pelupa

Lupa adalah salah satu sifat yang lumrah yang biasa dialami oleh seseorang. Namun bagi mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Solo ini, lupa sudah menjadi “penyakit kronis” yang harus segera disembuhkan. Nama sesungguhnya Sinta tapi penulis samarkan menjadi Senti supaya tidak ketahuan (loh sama aja ya). 

Kebiasaan lupa Sinta ini sudah diketahui oleh seluruh penghuni indekos, mulai dari lupa mematikan kran kamar mandi, lupa membawa handuk saat mandi, lupa mematikan lampu kamar ketika ditinggal pergi, lupa menjemur pakaian, lebih parah lagi dia pernah lupa masih memakai sandal jepit ke kampus. Untungnya, dia tidak pernah lupa bernafas, bisa berabe urusannya kalau sampai lupa.

Pernah suatu ketika Sinta diberi film lama yang terkenal di Korea beberapa waktu lalu berjudul “Moment Two Remember” yang mengisahkan tentang kebiasaan lupa seseorang yang ternyata adalah sebuah penyakit Alzheimer. Namun lupa yang dialami Sinta ini berbeda, dia lupa hanya karena dia tidak suka mengingat-ingat hal-hal yang menurutnya tidak penting.

Nah, lupa yang dialami kali ini benar-benar parah karena dia sudah membuat geger seluruh kelas bahkan dosen dan security di kampusnya. Kisah ini berawal ketika satu kelas hendak mengadakan kunjungan ke Musium Radya Pustaka di Solo.

“Ren, kamu bonceng aku aja. Aku kalau motoran sendiri rasanya gimana gitu ren.” ujar Sinta kepada salah seorang teman kelasnya.

Reni pun mengangguk setuju. Mereka berdua menuju tempat parkir, namun alangkah terkejutnya ketika sepeda motor milik Sinta tak ada di tempat. Sinta pun panik, dia pun memutuskan bertanya kepada salah seorang mahasiswa yang tengah mengambi motor di parkir motor tersebut.

“Mas lihat motor beat hitam nggak disini?.” tanya Sinta dengan nada panik.

“Nggak mbak, motorku tadinya disana mbak.” ujar mahasiswa tersebut sambil menunjuk pojok tempat parkir.

“Tapi dipindah sama security nya kesini. Mungkin tujuannya dirapikan kali ya mbak, coba dicari dulu mbak siapa tahu dipindah kayak punyaku.” terang mahasiswa tersebut.

Sinta pun sedikit mempunyai titik terang, dia menuliskan plat nomor sesuai yang tertera di STNK nya kemudian diberikan kepada Reni.

Sementara itu, rombongan teman-temans sekelas beserta dosennya yang sudah menunggu mulai bertanya-tanya keberadaan Sinta dan Reni. Ade, selaku ketua rombongan pun akhirnya mencoba mengirimkan BBM kepada Sinta. Sebelum mengirimkan BBM, Ade pun sempat membaca PM (personal message) yang barusaja di update Sinta.

“Siapa aja yang ngambil motor gue, please balikin, itu motor babe belum lunas.” Begitu bunyi pm milik Sinta, tidak lupa dengan emoticon menangis di belakangnya. Yap, Sinta adalah tipe cewek yang sangat aktif di media sosial. Kadang-kadang, saat dia lapar bukannya dia pergi ke warung makan, justru dia akan menulis di akun facebook, instagram dan media sosial lain bahwa dia sedang lapar.

Mengetahui PM tersebut, ketua rombongan memberitahu kepada dosen. Akhirnya diputuskan beberapa dari mereka tetap tinggal termasuk dosen untuk membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi Sinta, sebagian yang lain melanjutkan perjalanan ke museum.

“Terakhir tadi kamu parkir dimana?” tanya security kepada Sinta.

“Iya disini Pak, saya nggak mungkin lupa.” tegas Sinta dengan wajah meyakinkan.

“Nggak kamu tinggal di kos?” tanya security itu lagi.

“Nggak Pak, ya ampun. Ini STNK saya pak, coba bapak lihat.”

Sinta pun menyerahkan STNK nya, kemudian mereka berbagi tugas untuk mencari motor Sinta yang tidak ada di tempat. Bahkan dosen Sinta menghubungi pihak keamanan kampus untuk mengecek cctv. Maklum, beberapa hari yang lalu memang terjadi pencurian sepeda motor sehingga membuat parno beberapa mahasiswa termasuk Sinta.

Di tengah kepanikannya, Sinta mendapatkan telvon dari ayahnya. Sinta sempat berpikir mungkin ayahnya yang sedang di rumah mendapat firasat buruk tentang dirinya karena mereka berdua biasanya mempunyai semacam ikatan batin. Mungkin kedengarannya sedikit berlebihan, ya memang.  

“Asslamualaikum Sin,” ucap Ayahnya datar.

“Wa’alaikumsalam. Yah, Sinta minta maaf yah. Jangan marah sama Sinta ya Yah.” jawab Sinta dilanjutkan dengan ocehannya yang terdengar panik.

“Minta maaf apa Sin?” tanya Ayahnya bingung.

“Yah, motor Sinta ilang.” kata Sinta, pelan, pelan sekali.

“Motor apa?” Ayahnya malah balas menanyai Sinta.

“Motor apa? Kayak motor Sinta banyak aja Yah, motor Sinta kan Cuma 1. Beat hitam.” ujar Sinta sedikit kesal.

“Lha wong motornya kan kamu tinggal di rumah, mau dipajekin dulu. Makanya ini Ayah telvon kenapa STNK nya  malah ada sama kamu, nggak kamu tinggal dirumah.” jelas Ayahnya

“Astagghfirullohal’adzim” ujar Sinta sambil menepuk jidatnya.


Ternyata Sinta benar-benar lupa. Memang tadi pagi dia benar-benar memarkir motornya di tempat tersebut namun dia lupa kalau tadi pagi dia nebeng motor teman kosnya yang kuliah di kampus yang sama. Di satu sisi Sinta malu karena sudah membuat bingung banyak orang, dia hanya bisa senyum-senyum sambil cepat-cepat bergegas pergi setiap bertemu orang-orang yang tahu kejadian siang itu. 

Namun di sisi lain Sinta sangat bersyukur karena ternyata motornya yang masih kridit itu tidak hilang. Sampai saat ini banyak yang menjulukinya celup atau cewek pelupa, dan meskipun begitu Sinta tetap enjoy dan tidak merasa keberatan. Yah, memang seperti itulah Sinta.
Read more

Minggu, 12 November 2017

Cerpen Paling Lucu Terbaru Karya Sendiri

Cinta, tema setral yang tak ada habisnya untuk dibahas. Khususunya dikalangan kaum remaja. Begitu juga dengan lelaki tampan yang biasa disapa Revan. Hal ini terjadi ketika ia berada di sekolah barunya.Hari pertama ketika ia masuk sangat menyenangkan karena ia dapat mengenal  banyak teman baru. Revan termasuk remaja laki- laki yang pandai, aktif dan sopan. 

Namun dibalik sikap yang tak banyak dimiliki ramaja laki – laki lain. Ia memiliki sifat sangat pemalu, terutama pada lawan jenisnya, hingga suatu saat ketika ia duduk di pinggir taman sekolah ia melihat seorang perempuan cantik yang sedang duduk di kursi taman bersama teman – temanya. Pandangan mata Revan tak berkedip ketika ia melihat perempuan  cantik itu. Rasa ingin tahu Revan untuk menegenal Perempuan tersebut sangat kuat. Hinggga bel berbunyi yang merusak lamunannya. Hingga ketika waktu pulang ia bermaksud untuk menunggu cewek cantik itu didepan gerbang.

*****

Rasa ingin tahunya pun terjawab setelah ia mengetahui nama cewek cantik tersebut. Tak biasanya ia merasa sangat berani untuk berkenalan dengan cewek yang belum pernah ia kenal. Hari – haripun berlalu ia pun mulai mencari tahu banyak tentang Kayla cewek cantik yang telah menarik hatinya untuk mengenal lebih jauh. Dengan tiap harinya ia menitipkan bunga mawar yang ia titipkan melalui penjaga pos satpam yang sudah kenal Kayla. 

Setiap hari Revan selalu mampir ke pos satpam untuk menitipkan  bunga mawar, terkadang ia juga menuliskan secarik kertas yang berisi puisi indah yang menggambarkan perasaannya kepada Kayla. Namun, suatu waktu Kayla pun merasa sangat heran serta ingin tahu siapa gerangan yang mengirim bunga serta puisi yang setiap hari tak henti absen dari pos satpam yang selalu disampainkan kepadanya. Hingga ia pun bertanya kepada petugas satpam.
            
Petugas satpam pun juga tak mau menjawab pertanyaan heran Kayla.Lalu tanpa sengaja ia menabrak seorang, ternyata ia adalah Revan ..!!! Laki – laki tampan yang telah setiap hari memberinya bunga serta puisi indah padanya. “ Maaf...Maaf.. Aku gak liat Jalan...!!! “ kata Kayla sambil Mengambil barangnya yang jatuh. “ Iya gak papa kok, Hati – hati aja kalo jalan “ sapa Revan sambil melihat barang yang dipegang Kayla, ternyata adalah bunga serta puisi yang selama ini ia beri untuknya, talah berada ditangan sang Bidadari Indah yang selama ini telah mewarnai harinya, yang tanpa Kayla Tahu. Revan pun memberanikan diri untuk bertanya.
            
*****

Hingga satu waktu Revan memberanikan diri untuk menulis puisi yang kertasnya disisipkan kata untuk mengajak Kayla bertemu di suatu taman yang tak jauh dari sekolah mereka. Jam pulang pun tiba, namun ketika ia sampai di dekat pos satpam ia melihat Kayla mnerima barang yang ia titipkan, namun disampingnya berdiri seorang laki – laki yang ternyata adalah kawan sebelah kelasnya. Hatinya pun merasa kecewa, putus asa yang sekarang ia rasa. 

Namun di lain tempat Kayla telah membaca surat yang dikirim Revan dan datang menuju taman yang tak jauh dari sekolahnya. Revan pun bergegas dengan cepat menuju taman. Lalu ia duduk dikursi taman sambil menulis puisi perasaan hatinya. Tanpa ia sadari dari jauh seorang cewek datang.

Tanpa Kayla sadari laki –laki yang ia cari adalah Revan, yang sedang duduk didepannya. Namun setelah Kayla bercerita tentang kedatanganya kemari untuk menemui orang yang telah memberinya hadiah setiap hari, keberanian Revan pun hilang karena Kayla datang  bersma laki – laki lain yang masih satu sekolah dengan mereka. Revan pun memutuskan untuk pergi meningggalkan mereka dan bersikap seolah – seolah tak mengerti apa yang sedang Kayla cari.

*****
            
Hingga suatu malam Revan memutuskan untuk pergi ketaman, hatinya merasa bahwa ada suatu hal yang menggerakkan hatinya untuk pergi ketempat itu. Dengan membawa sebuah gitar, dan duduk dikursi taman ia pun bernyanyi bersama indahnya malam. Ia meluapkan semua rasa penyesalannya karena ia tak mampu mengatakan apa yang ada dalam hatinya kepada sang bidadari hatinya. 

Namun , dilain tempat Kayla pun merasa ingin sekali untuk pergi ke suatu tempat yang dapat menjawab segala pertanyaan hati sekarang yang sangat meluap – luap karena, hatinya kini benar –benar ingin menegetahui siapa laki – laki yang membuat bara cinta dihatinya kini terbakar. Hingga langkah kakinya pun melangkah menuju taman. Dan ternyata ia menemukan seorang laki – laki yang membuatnya ingin mendekatinya, dan ternyata ia adalah Revan yang sedang bernyanyi. Mereka berdua pun termenung dalam sunyi. 

Revan pun terkejut, karena Kayla bertanya padanya tentang kedatangan banyak bunga setiap harinya. ia pun berfikir bahwa saat inilah waktu yang tepat untuk mengatakan semua yang terjadi selama ini, yang ia sembunyikan sendiri. Ia pun menata hatinya dan memberanikan diri untuk mengatakan semua perasaannya.

“Kalau seandainya, kamu bertemu sama laki – laki itu apa yang mau kamu katakan , Kay.. ??”

“ dan kalau laki – laki iti sekarang ada di smaping kamu apa yang kamu lakuin,,???

“ aku mau ngomong yang sejujurnya Van, aku mau nyatain apa yang terjadi setelah surat dan bunga – bunga ini datang ke tangan ku,..!!

“ Dan kalau laki – laki itu,, AKU...??? “

Semuanya pun terdiam, tertunduk dalam satu perasaan yang sama, tanpa Kayla sadari , ketika ia mengatakan itu, ia membuat Revan mnitihkan air mata dalam tunduknya.        “ maaf Van, bukan maksud ku untuk apa –apa, tak sejujurnya aku memang suka dan jatuh cinta sama semua hal yang udah kamu curahkan lewat surat ini.” 

Mulut Kayla berkata pada Revan dengan nada yang sedih. “ Dan sekarang bolah, kan kay kalau aku menyatakan langsung semua perasaan ku yang selama ini hanya kau tau lewat surat ini “ Revan memegang tangan Kayla. “ aku , sudah tau Van,, Aku merasakan apa yang kamu rasakan sekarang.. maaf kalo selama ini aku tak tahu tentang ini semua, dan aku merasa bersalah, karena membuatmu kecewa”.

            
Akhirnya mereka pun menyatakan semua apa yang selama ini mereka sembunyikan terutama Revan yang  selama ini menyembunyikan perasaanya dalam diam. Setelah saling tahu tentang perasaan hati masing – masing mereka memutuskan untuk, mengikat hubungan mereka lebih dekat. 

Malam iu pun menjadi malam yang mengejutkan sekaligus membahagiakan bagi Revan dan Kayla. Surat dan bunga misterius yang selama ini meneror hati  Kayla pun terungkap. Dan Cinta antara keduanya pun terus berlangsung hingga jenjang yang serius. Dan menjadi Kenangan cinta terindah dalam hidup mereka.

Nisa’ul Afiah Septiana
Read more

Selasa, 24 Oktober 2017

CERITA LUCU TEMA PENGALAMAN PRIBADI TERBARU

My First Love 
Karya  Asep Rian Maulana

Mimin melangkahkan kakinya dengan perlahan. tubuhnya gemetar dan diiringi oleh detakan jantungnya yang terus berdetak kencang. ia masih menggunakan seragam sma nya dengan rok abu-abunya yang panjang. Sudah beberapa kali ia mengusap wajahnya yang penuh dengan keringat. Tetapi ia tetap berjalan menuju kepada seseorang. dengan perasaan yang pasti,dan ia hanya butuh sebuah jawaban dari seseorang. untuk memulai atau mengakhiri perasaannya. Kepada seseorang yang ia cintai,seseorang yang menjadi first love nya sejak dulu.


Tinggal beberapa langkah lagi,ia sudah ada dibelakang pria remaja berjaket merah itu. Rindangnya pohon membuat sinar mentari tak menyinari mereka berdua,bayangannya bersembunyi entah kemana. daun daun kering berterbangan dan mampir ke sebuah topi merah yang terpakai di rambut hitam. Ia mengambilnya dan kedua matanya yang coklat menatap daun kering itu,sebuah ketenangan yang berhasil ia dapatkan.

" Ma-maman..." Mimin berusaha memanggilnya meskipun suaranya sulit dikeluarkan karena rasa gugupnya.

" Mimin ?." Dia menoleh kebelakang,melihat gadis cantik berambut panjang itu.

" Ma-Maman...aku...aku.." Dia berusaha menahan rasa gugupnya dan mengumpulkan sejuta keberanian pada dirinya.

" Ada apa min ? Apa kau ingin membicarakan soal karedok yang kemarin kau kirim kepadaku?, sudah aku terima kok." Senyuman manis darinya membuat Mimin semakin siap mengutarakan perasaanya.

" Bukan itu...Aku...Aku ingin mengucapkan sesuatu kepadamu.." Mimin menegakan tubuhnya,kedua matanya yang menatap Maman dengan pasti.

" Apa itu ?." Satu alisnya ia naikan keatas,tanda ia penasaran.

" Aku mencintaimu !!." Dua kata itu menggelegar di dua hati.

" Ehhh ? kau pasti sedang bercanda bukan...Kau...Mimin ??.." Maman melihat air mata Mimin sudah membasahi kedua pipinya,tanda bahwa itu adalah keseriusan.

Bagaikan halilintar yang langsung menyambar hati Maman,ia tak percaya apa yang baru saja gadis itu ucapkan. ia tak tahu harus mengucapkan apa,hatinya bingung dan panik. Mimin mempersiapkan hatinya untuk jawaban yang akan diberikan kepadanya.

" Mimin...Aku.......Aku menghargai perasaanmu. Tapi aku..." Maman menggaruk kepalanya yang tak gatal.

" Apa kamu menerimaku ?." Mimin mengusap air mata dan siap dengan jawaban Maman.

" Aku tak bisa menerimamu...."

Empat kata yang keluar dari pita suara Maman sukses memecut hati gadis itu. Ia begitu tak percaya kalau orang yang paling ia sayangi akan mengatakan itu kepada dirinya. Kepalanya ia tundukan dan tak terima dengan jawaban itu.

" Ke-kenapa ?." Mimin mengeluarkan suaranya yang terdengar menahan tangisan.

" karena aku sudah memilih seorang gadis....Seorang gadis yang sudah aku cintai sejak dulu..." Maman mengalihkan pandangannya.

Ia tak berani melihat wajah Mimin yang menahan tangisannya,sungguh benar-benar tidak sanggup.

" Siapa ? Siapa gadis itu ?."

" Nenekmu...."

Krik....krik....krik...krik....

" NENEK!!!!! kenapa kau merebut gebetanku lagi!!!!!..."

-End-
Read more

Kamis, 19 Oktober 2017

CERITA LUCU TENTANG PENGALAMAN PRIBADI YANG BARU

SALAH GANG  
Oleh: Argi Noor Hidayat

Cerita ini kutulis berdasarkan pengalaman pribadiku bersama salah seorang temanku pada suatu hari tentunya masih dalam naungan Ramadhan tahun lalu. Namaku Argi Noor Hidayat biasa dipanggil Argi dan temanku bernama Hariawan Widi Nugroho biasa dipanggil Hari.

Pada suatu hari, ku menghadiri TPA di salah satu rumah Allah di daerahku. Dulu memang aku masih menjadi santri, namun alhamdulillah pada Ramadhan kali ini aku sudah ditunjuk menjadi seorang pengajar walau masih amatir. Karena umurku baru jalan 14 tahun, aku masih senang dengan yang namanya jalan-jalan pagi atau yang biasa dipanggil JJP. Jalan-jalan pagi memang sudah menjadi ikon atau tradisi hampir setiap muslim baik anak-anak, remaja, dewasa maupun kaum senior di kala pagi hari. Mungkin karena sensasi dingin dan kekerabatan antar pejalan kaki yang selalu diiringi canda tawa disetiap langkahnya.


Saat itu aku berencana bersama santri-santri lain untuk berJJP ria setelah shubuh esok pagi. Alhamdulillah aku bisa menggait member-member JJPku sekitar 20 kaki. Hal yang terbayang banyak namun keesokan harinya hanya ada 4 kaki sahabat yang masih bisa bertahan dalam ridho-Nya. Ketika itu semilir angin bercampur embun memang masih terasa disekujur tubuh. Ditambah lagi dengan aliran air di daerah wudhu. Maklum pada saat itu masih sekitar pukul empat tiga puluh. Akan tetapi berkat ridho Ilahi kita masih tetap berdiri tegak untuk dua rokaat.

Dua rokaat satu salam terlaksana, tinggalah kita berdua yang masih di sekitar bawah kubah. Saat itu juga kami langsung memulai perjalanan kami mencari ridho Ilahi karna tujuan kami adalah shalat dhuha, tapi yang istimewa dari kami adalah ingin shalat dhuha di masjid yang sama. Silahkan ketawa dahulu hehe...

Perjalanan kami mulai melewati daerah permukiman padat yang masih sepi, sunyi dan penuh kedamaian. Dengan santainya kami bercanda tawa dan tak menyadari bahwa kami sudah melewati rumah impian yaitu kuburan. Dengan sedikit tawa aku mempercepat langkahku supaya tak terlihat ketakutan oleh temanku. Namun apa daya karna dengan sekuintal lebih bobot tubuhnya memelukku akhirnya aku tak bisa apa-apa. Kami pun mulai santai ketika sudah melewati tempat tadi.

Waktu masih sangat pagi sampai-sampai matahari pun belum menunjukkan senyum manisnya. Tibalah kita dalam dua pilihan antara dua gang. Saat itu ku mengira-ira sudah sampai setengah jalan namun karna pencahayaan yang kurang aku kebingungan menentukan arah pulang. Sebut saja gang kanan dan gang kiri, dengan jantannya ku memilih gang kiri (padahal masih ragu-ragu hehe). Tapi tak kami sangka gang yang kami tentukan salah. Pada gang itu hanya ada barisan bambu-bambu ori yang sangat menakutkan bagi kami. Maklum menurut cerita masyarakat, ketika di sekitar kawasan bambu-bambu ori itu angker. Waww... Akhirnya kami lari terbirit-berit dengan menggotong sepasang alas kaki kembali ke peraduan tadi. Jantung kami berdetak kencang, namun bisa terobati dengan ucapan istighfar. Tak lama kemudian kita langsung melanjutkan perjalanan menuju gang kanan tadi. Sungguh peristiwa yang sangat memalukan sekaligus menakutkan bagi kita berdua.

Walau dengan peristiwa itu, kami masih melanjutkan jihad kami dengan canda tawa. Tepat pukul tujuh pagi kami tiba di peraduan tempat kami memulai perjalanan. Dengan semangatnya kami jatuhkan badan-badan kami ke ubin-ubin masjid yang dingin. Apa yang terjadi? Ternyata masjidku, tempat ku sujudkan dahiku diselimuti debu-debu. Apa boleh buat kita bekerja bakti bersama membersihkan tempat sujud kami.

Alhamdulillah satu putaran jarum panjang bisa kita cukupkan untuk membersihkannya. Langsung kami mengambil air wudhu untuk mensucikan tubuh kita dan memulai sholat dhuha secara munfarid. Karna masih lelah, kami beristirahat sambil membaca kitab suci Al-Qur’an dilanjutkan bermain game dan bercanda tawa di masjid lalu kita kembali ke rumah masing-masing.

Subhanallah sungguh perjalanan yang berkesan bagi kami. Perjalanan menuju rumah Allah dengan sedikit ujian namun penuh keberkahan. Terimakasih temanku, terimakasih ya Allah.
Read more

Minggu, 15 Oktober 2017

CERPEN LUCU PENGALAMAN PRIBADI PALING BARU

KUCING YANG PENGERTIAN 

KARYA Hesti Wulandari

Dirumahku,  aku punya satu ekor kucing betina pendatang. Kunamai kucing itu dengan nama “Bunting”.  Ada alasan tersendiri kenapa kunamai kucing itu dengan nama “Bunting”. Pasalnya, kucingku itu subur banget. Ia keseringan berperut bunting. Tak lama setelahnya Ia berojol. Beberapa bulan kemudian Ia bunting lagi dan lagi!

Suatu siang, tatkala ku sedang mengetik  RPP di meja ruang tamu, tiba-tiba ku terkejut bukan kepalang. Nadia teriak-teriak kayak orang baru aja habis lihat hantu. “Kak Nong, kesini.cepatan!!!”. Teriak Nadia memanggilku. Cepat-cepat kuberjalan menyusul Nadia yang sedang berada di kamar Bang Ijal. “Ada apa sih dek teriak-teriak, bikin orang jantungan aja”. Tandasku ke Nadia.


“Kak, kucing yang datang ke rumah kita beberapa minggu yang lalu udah berojol. Lihat nih Kak kucingnya berojol didalam keranjang tempat  baju kotornya Bang Ijal. Gimana nih Kak?. Aku gak mau cuci. Gak mau! Gak mau! Pokoknya gak mau”. Seru Nadia dengan nada mengeluh kepadaku. “Ya udah aku yang cuci”. Jawabku dengan nada keterpaksaan. Aku adalah orang yang sudah familiar dengan taik kucing dan semua persoalan lainnya yang disebabkan oleh kucing. Dulu, aku pernah punya kucing sembilan ekor.

Bayangin saja bertapa pusingnya diriku dengan seabrek masalah yang dibawa kucing-kucing itu. Mulai dari yang paling parah, mereka beol diseluruh kamar yang ada dirumahku sampai pada acara pakek ngambil ikan yang sudah kututup rapat dengan tudung saji. Aku adalah pecinta kucing dan penyayang terhadap kucing.  Jadi tak masalah bagiku jika kucing itu berojol atau berak sembarang tempat. Paling-paling jika mereka kedapatan mengambil ikan dan beol atau muntah disembarang tempat aku memukuli mereka dengan beberapa lidi yang kuambil dari berkah sapu halaman.

Meskipun mereka sering mendapat hukuman, kucing-kucing tersebut tidak jera. Mereka tetap dengan hobi mereka itu. Mereka tak peduli dengan bertapa capeknya aku membuang muntah dan taik mereka serta sprei yang hampir tiap hari kucuci balik karena setiap hari mereka ngompol di tempat tidur persis bayi yang baru lahir saja. “Dasar kucing-kucing…”. Gumamku dalam hati.

Yah, harus gimana lagi mau gak mau aku harus merelakan diriku jadi Baby Sister, jadi Baby Sister gak ada gaji lagi. “Nasib-nasib, malang benar ya”. Celotehku dengan nada kesal. Bertapa tidak tak ada seorangpun orang rumah yang mau membantuku. Semua masalah yang dibuat sama kucing harus ku selesaikan sendiri. Kalau si Nadia, adikku sih si super malas, mana mau dia disuruh berurusan dengan yang namanya muntah dan taik kucing. Anak perempuan yang kemanjaan kayak dia cuma bisa maen facebook sama bbm. Karena tidak tahan dengan penderitaan hidup yang tiada akhir-akhirnya, akhirnya setelah mendapati tuh kucing-kucing lakuin kesalahan fatal dengan beol di sofa ruang tamu, aku tidak memberikan mereka kompensasi lagi. Kali ini tiada ampun untuk mereka.

Setelah kuberi hukuman kucing itu dengan memukulnya dengan sapu lidi, kuputuskan hal yang paling berat meskipun hatiku sedih dan teriris juga karena diriku sudah sangat sayang pada tuh kucing-kucing yang sering kugendong dan terkadang tidur disampingku. Aku membuang mereka kepinggir jalan atau ke pasar ikan walaupun ku tahu mereka enggan dan berat tuk meninggalkan majikan yang baik sekaligus juga jahat sepertiku.

Aku selalu menerima kucing yang datang. Ku rela rumahku dijadikan tempat penampungan semua kucing. Lagipula banyak kucing, banyak rezeki. Begitu kata orang. Kucing itu juga binatang kesayangan Nabi. Karena alasan itulah kuizinkan semua kucing tinggal di rumahku asalkan mereka tidak melanggar norma-norma kesopanan dan tata karma yang telah kutetapkan, tak boleh naik keatas meja makan, tak boleh dengan sengaja mengambil ikan yang sudah ditutup dengan tudung saji serta tak boleh beol atau muntah sembarang tempat.

Setiap kucing yang melanggar tak ayal harus mendapat hukuman  dibuang ke pasar ikan biar jadi gembel dijalanan. Hukuman itu juga kuterapkan pada Bunting. Saat itu ku tak bisa toleransi lagi dengan taik anak-anaknya yang hampir ada disemua ruangan yang ada di rumahku. Anak-anaknya  buat masalah. Kalau Bunting sih tidak. Ia hanya membuat kesalahan kadang-kadang jika ia sudah benar kelaparan. Jika perutnya sudah lapar, ia bisa menelungkupkan gelungku besar yang sudah kuletakkan diatas tudung saji. 

Suatu hari, aku  memutuskan membuang ketiga anak-anaknya yang masih merah namun sudah bisa berjalan walaupun lamban. Hari itu merupakan hari yang sangat melelahkan bagiku. Bertapa tidak, aku harus mengejar anak-anak kucing yang sepertinya mereka tahu kalau mereka mau dibuang. Anak-anak kucing itu sepertinya tidak mau hidup dijalanan jadi gembel. Mereka tetap bersikukuh tak ingin out dari rumah yang menurut mereka pasti sangat nyaman. Mereka tak mau dimasukkan kedalam karung. Akhirnya, setelah beberapa jam, setelah dibantu Bang Ijal, Abangku dalam proses pengejaran tuh kucing, kami berhasil juga mengumpulkan anak-anak kucing buronan itu untuk dimasukkan kedalam karung beras.

“Bang, ada yang kelupaan..”. Panggilku kepada Bang Ijal yang mulai pergi meninggalkan dapur. “Ada apa lagi?”. Tanya Abangku. “Mamaknya aturannya dibuang juga. Kasihan anak-anaknya masih nyusu”. Tandasku. Tanpa berkata apa-apa, Bang Ijalpun menggurungkan niatnya membuang anak-anak kucing itu kepasar.

Aku dan Bang Ijal melanjutkan ekpedisi mencari mamak si anak kucing yang sudah dari tadi nangis “meong-meong” mencari ibu mereka. Bunting pun pulang dari kegiatannya berburu tikus dan tupai diluaran. Seperti biasa, tak lupa Ia membawa makanan berupa tikus tuk anaknya.

“Wah, sayang kali si Bunting sama anak. Tandasku kepada Bang Ijal yang sudah sedari tadi berdiri siap sedia untuk menangkap Bunting.

“Hhppppp,,,,Bunting akhirnya bisa ditangkap oleh Abangku. Cepat-cepat Bang Ijal memasukkannya kedalam karung beras yang sudah berisi ketiga anaknya. Kami pikir setelah melihat ketiga anaknya, Bunting mau ikut ke pasar menemani anak-anaknya yang masih bayi. Ternyata dugaan kami salah. Bunting memaksa untuk keluar karung. Setelah beberapa lama memaksa Bunting untuk masuk kedalam karung, usaha kami gagal juga. Akhirnya kami putuskan untuk membawa ketiga anaknya saja ke pasar sementara Bunting tetap kami biarkan dulu tinggal di rumah ini.

Beberapa bulan kemudian Bunting perutnya berisi bayi lagi. Kami pikir Bunting akan membuat masalah lagi dengan kelahiran anak-anaknya. Ternyata tidak, Bunting cukup sadar diri saat kami membuang ketiga anaknya dengan mata kepalanya sendiri. Ia tak lagi berojol di rumah. Bunting memilih berojol di rumah sepupuku, tepatnya diatas tumpukan baju-baju kotor sepupuku. Untuk menghindari anaknya dibuang kedua kalinya, Bunting juga tidak membesarkan anaknya lagi di rumahku. Begitulah selalunya Bunting lakukan kalau ia ingin berojol. “Waah…taat kali tuh kucing gak bikin capek majikannya”. Ujar Nadia sambil ketawa. Sementara Aton, sepupuku terlihat kesal karena sudah capek mencuci baju-baju kotor yang sudah bercampur dengan darah.

Bireuen, 20 September 2015
Read more

Minggu, 01 Oktober 2017

Cerita Lucu Pengalaman Pribadi Singkat TERBARU

KE-COA

“Aaaarrrgghhhh...!!!” teriak  gw  histeris sembari ngebantingin buku yang lagi dibaca.
“Gila, lo! Jauhin tuh kecoa dari gw!” segala sumpah serapah gw lontarin sama makhluk ceking aneh yang lagi cengengesan sambil bawa-bawa saudara satu spesiesnya–kecoa.

“Gw baru tau, di kota metropolitan yang serba canggih and maju ini, kok ada gajah nyasab yang takut ama kecoa, ya?” ledek Rido.


Gak ada jurus lain yang bisa gw paraktekin buat ngelawan makhluk aneh itu, selain ngibrit keluar kelas. Dengan semangat empat lima Rido pun menghalau gw, bola ditendang dan ternyata... GOOLLLLL....!!! (loh???). 

Seluruh isi kelas pun berhamburan semua kaya anak-anak ayam yang baru keluar dari kandang. Tanpa arah, tanpa tujuan. Yang jelas cuman satu doa mereka, semoga Si Rido masuk lagi ke perut emaknya. Ngga cuman cewek-cewek centil aja yang mencari tempat persembunyian. Ternyata  Si Pras, berandalan nomor satu di SMA juga ikutan kabur loh! Malah dia yang paling sibuk dan paling kenceng teriak.

            Karena gagal lari dari medan pertempuran, akhirnya gw terpaksa bertempur dengan semangat berkobar dan asa yang membara. Uhuk..uhuk... Serasa ikut perang sama kakek buyut ngelawan Belanda. Tapi yang jelas, Belanda yang satu ini adalah produk gagal yang beda ama yang lainnya. Malahan segede inti atom pun ngga ada mirip-miripnya. Udah item, rambut kribo, kurang gizi, giginya ompong lagi.
            
“Pergi lo! Jangan ngejar-ngejar gw terus! Lomba marathon udah lewat!” gw teriak dengan napas tersendal-sendal. Eh.... tersengal-sengal. Gw berlari mengelilingi seluruh sudut kelas.

“Liat, kecoanya pengen kenalan ama lo!” goda Rido sambil memajang gigi kuning yang penuh dengan karang gigi. Mungkin setaun dia engga gosok gigi.
            
Kami terus kejar-kejaran kaya Tom and Jerry yang lagi tenar di TV. Sial! Pada akhirnya, gw terjebak di pojok kelas.
            
“Gila! Gw udah ngga bisa kabur lagi, “ batin gw pasrah.
Dengan wajah tengilnya, Rido melemparkan seekor makhluk kecil menjijikan ke arah tubuh gw. Yang tak lain dan tak bukan adalah kecoa!

“SIALAN LO RIDO...!!!” umpat gw satu perseribu sekon sebelum gw melompat dengan indah, lalu melayang bagai bidadari yang akan pulang ke kahyangan. Dengan senyum kemenangan yang terbuka lebar, tubuh gw terbang menuju sebuah meja coklat tepat dihadapan. Gw rapatkan kedua kaki kemudian mendarat bagai balerina dalam pentas. Ternyata...

 “BRUUUKKK...!!!”
Seketika meja kayu berukuran 90 x 60 senti itu ambruk tertimpa tubuh gw yang superjumbo.

“Hahahaha...” riuh kelas karena gelak tawa.
“Wah, ada gajah bengkak jatuh dari langit!” ucap Rido memprovokator yang lain.

 “Ya, itung-itung pengganti gajah mada, lah...” Siska ikutan nimbrung.
“Tau engga kalau Si Rina juga gajah mada loh...” lanjut Rido.
“Loh? Kenapa? Gajah mada kan keren. Mana ada sejarahnya pemimpin yang hobinya ngutang bala-bala sepotong?” celoteh Dina.

“Ya, Gw setuju tuh!” ucap Dino, saudara beda ibu ama bapaknya Dina. Dino itu satu-satunya orang di kelas yang suka mengorek telinga pake jempol kaki loh!

Seisi kelas bersorak-sorai pertanda bahagia. Bahkan ada yang sampe bela-belain pinjem gendang ama kecapi ke ruang musik buat mainin gamelan gajah bengkak.

Wajah gw berubah merah padam. Mata menyipit kaya kucing garong cari makan. Gw terdiam dengan posisi kaki di atas, rok sobek, badan terlentang dan tangan terjepit di reruntuhan meja. Parahnya bukan nolongin, mereka malah nunjuk-nunjuk muka masam gw sambil ketawa.

Gw mengeram keras bagai harimau bangkit dari kubur.
“RIIDDOOOOO...!!!”

***

“Ah, rese tuh anak!” umpat gw. Gw peluk lutut sambil bersandar di dinding kamar bercat biru.

“Gimana  pun caranya, gw bakal naklukin fobia gw ama kecoa. Titiiiiiiikkk...!!!” pekik gw hingga terdengar ke galaksi lain.

Tiba-tiba Mami nongol dari balik pintu.
“Rin, kamu mau itik? Kan udah Mami gorengin ayam,” ucap Mami polos.
“Aaarrrgggghhh.....!!!”

Ngeliat anaknya garang kaya singa, Mami langsung buru-buru keluar kamar karena takut dimakan (ngga segitunya kali!).

Hah... gw mendesah panjang.
“Pokoknya gw harus bisa! Gimana pun caranya,” ucap gw sambil mengangkat tangan kanan yang dikepal.

“SIAPA PUN LO, PLEASE TOLONG GW....!!!” teriak gw lagi untuk yang ke seribu sembilan ratus tujuh puluh tiga koma lima enam kali.

Zappp... beberapa detik kemudian HP gw berbunyi.
“Sms dari siapa nih?” tanya gw dalam hati.
Gw mulai membaca satu pesatu aksara yang terangkai.
“Woy! Suara lo ngeganggu tidur gw, tau! Kalau lo mau, mati dulu baru teriak. 

Jadi gak bakalan ada yang denger. Cari anti fobia kecoa? Hubungi: master kungfu kecoa. Jalan Suka Bau Kecamatan Suka-suka Gue. Dari: Engkong Coa, saudara alien di Mars.”

Gw tersentak lalu ngelempar HP ke atas kasur.
“Gila, baru kali ini gw dapet sms dari alien!”.

***

Dengan tekad bulat, sebulat bulatnya kaya kue donat, gw susuri Jalan Suka Bau itu seorang diri. Sesekali membetulkan ikat kepala yang biru cerah bertuliskan ‘no fobia’.

***

“Rin, pelit banget lo! Makan sendiri ngga bagi-bagi,” sindir Rido dengan tubuh yang mulai mendekat. Didudukkan tubuh kurusnya di bangku panjang tepat di samping gw.

“Lo mau?” ucap gw sambil menyodorkan mangkuk.
“Ya, maulah. Gw belum sarapan tau,” jawabnya. Tangannya menyambar dengan cepat.

Mangkuk itu kini telah berpindah tangan. Dengan susu yang sedikit tumpah karena gerakan paksa.

“Apaan nih? Susu pake serial coklat?”
Tanpa menunggu jawaban gw, ia mulai menyendokkan makanan ke mulutnya.

“Rin, kok serealnya berserat banget. Seratnya kasar agak keras juga,” ucap Rido sembari mengunyah.

“Baru tau ada sereal gandum yang rasanya sepet-sepet kaya gini. Eh, apaan nih?” katanya sembari menarik sesuatu dari mulut. Tampak kepala kecoa buntung dengan kaki yang tinggal satu.

“Puih! gila! Lo mau bunuh gw?” teraknya sembari memuntahkan kecoa yang tersisa.

“Bukannya lo takut kecoa?”
“Itu dulu. Sekarang gw sadar kalo yang harus gw hadepin itu bukan kecoanya. Tapi ketakutan dalem diri gw sendiri”.

 “TAPI ENGGA SEGITUNYA KALI....!!!"             
***
Read more

Kamis, 13 Juli 2017

Contoh Cerpen Pengalaman Pribadi Terlucu dan Terbaru

DUA bulan yang lalu aku menulis sebuah artikel berjudul “Arti Cinta dalam kehidupan” dimuat didalam sebuah surat kabar harian terbitan Ibukota. Disitu aku mendapat begitu banyak respon mengenai opiniku, banyak yang sependapat banyak pula yang tidak sependapat. Begitu banyak pro dan kontra mendoskriminasikan ketentuan tulisanku. 

Contohnya Pak Ridwan, seorang Dosen disalah satu perguruan tinggi swasta dijakarta. Dia berpendapat : Bagi saya cinta itu adalah sebuah manifiesto yang statismiknya selalu berubah ubah menurut skala amplifier-nya. Dua tahun yang lalu saya bertemu dengan istri ke-2 saya, dan disaat itu saya teramat mencintainya. Bahkan saya ragu, apakah saya masih bisa hidup tanpa kehadirannya disisi saya. Lalu singkatnya kamipun menikah, dan saya menjadi orang paling bahagia sedunia. 



Tapi merangkaknya waktu yang telah mengkeratkan keaslian sifatnya, membuat cinta saya padanya tertanggal kian harinya. Sampai batas substansi yang tidak mungkin saya ceritakan. Enam bulan sesudahnya kamipun cerai. Hanya kurang lebih enam bulan, kisaran waktu telah merubah kebahagian menjadi kesedihan, dan cinta menjadi kebencian. Jadi saya kurang setuju tentang pengutipan artikel minggu lalu, yang menggambarkan cinta adalah kekuatan. Yang mampu merubah orang biasa menjadi luar biasa. Karna bagi saya, pribadi cinta adalah sesuatu yang abstrak namun ber-expired, ada kalanya dia akan habis sebelum masa tenggangnya.
Lalu ada juga tanggapan dari Arumi, mahasiswi ekonomi asal jombang, dia bilang : Cinta itu sesuatu yang absolut, tak terbatas kadarnya. Karna dengan cinta saya telah menemukan pembatasan yang senantiasa mengarahkan saya kepada perbandingan sebuah bentuk rekaan nilai kebaikan dan keburukan yang saya temui. Dan dengan cinta saya telah menemukan kehidupan saya yang sebenarnya bersama satu sosok orang terkasih. Jadi, terima kasih cinta:)
Lalu ada lagi, seorang pengangguran asal Madura, helmi, dia berkelakar : Cinta itu bullshit, dan bagi saya sepenuhnya, cinta itu hanya berlandaskan materialistik saja, dengan pondasi-pondasi yang menawan namun penuh kebohongan. 

Sebab mata cinta hanya memandang sesuatu yang berkilau saja!
Begitu banyak rentetan tentang tanggapan yang masuk dalam kolom artikel saya, yang marak terbit kian harinya. Membuat saya merasa bahwa sudah saatnya membalas konklusi-konklusi mereka, dan hari ini saya mengeluarkan perdebatan lanjutan, mengenai unsur rekomendasi perkemukaan saya, dan dimuat disurat kabar hari ini : 
Klasifikasi cinta terfilosofikan laksana sebuah kudapan benih hasrat ruh masa lalu yang mati, tanpa jasad dan raga. Namun dari jenasahnya berlahan tumbuh sekepak sayap, kepak sayap itu lambat laun berkamuflase menjelma menjadi sebuah rasa simpati, rasa ketertarikan dan rasa ingin memiliki. Dia singgah melalui sebuah pandangan dan juga kesan yang menukik disetiap lindas dan yang berkehidupan. 

Lalu dia meluas memenuhi setiap rongga-rongga pernik kediaman manusia, bahkan diresistensi binatang invertebrata sekalipun. Dia begitu berangkai, sampai ranting-ranting ujungnya saja tak akan mampu kita temukan, dan dia juga begitu sangat berwarna, hingga ketentuan seluruh warna didunia ini akan pekat jika kita sejajarkan dengan warna auranya, dialah cinta. Sampai akhirnya dia tumbuh melalui tafsiran perasaannya masing-masing, seperti sebagaimana rindu, sebagaimana benci. Lalu sampai tiba masa peluruhan menjelang kematiannya kembali. Namun ia sebenarnya tidak mati, dia tetap hidup dalam kematiannya.
Nah, pada kenyataannya. Kita hanya mau menerima dan mengakui eksistensi cinta itu cuma pada hal yang baik-baiknya saja. Seperti saat kita mencintai seseorang yang ternyata juga balik mencintai kita. Juga hal-hal baik lainnya, yang tentunya selalu diselingi bersama rindu-rindu manis. Disitu kita akan mengagung agungkan cinta dengan berbagai pujian-pujian indah, dengan menganggap serasa dunia ini milik berdua. Namun, jika kita menerima atau mengalami dari kebalikannya fakta tersebut, sebisanya kita akan memungkirinya dengan berbagai ulasan bernarasi negatif oleh tanggapan-tanggapan terkesan penuh ego. 

Sebab  jikalau saja kita mampu menilik secara presisi, dalam kategori-kategorinya, cinta itu hanya sebuah resapan rasa, lalu terbiasa. Cinta laksana lintasan air mengalir yang terus mengalir menuju ketempat berceruk dan tentu saja akan selalu mengisi setiap lekuk hati dan lubang-lubang perasaan yang dia lalui. Disitu cinta akan mengikuti bentuk penampungnya dengan berbagai kejadian dan juga nasib si pelaku, kadang indah, kadang penuh derita dan benci. Lainnya lagi, cinta akan selalu dikombinasikan dengan rentangan waktu, guna untuk meluruh bersama. Cinta dan waktu ialah sebuah pautan hal yang tidak bisa dipisahkan. Butuh waktu buat mencintai, butuh waktu juga buat melepas cinta itu.
Jadi seperti yang saya simbolkan, baik dan tidak baik kita menuai varian cinta, semua merupakan sebuah jelujur takdir yang telah disusupkan dalam empiri setiap perannya sendiri-sendiri, tanpa bisa diejawantahkan lagi. Karna kesahihan cinta sangatlah validitas.
Besoknya aku menunggu tanggapan dari artikel saya, namun sampai beberapa hari lamanya aku menunggu, tidak ada seorangpun yang mengemukakan opini balasannya. Sampai akhirnya ada sebuah artikel baru masuk dalam surat kabar harian yang kuterima pagi ini, namun dengan telah berganti versi topik. Mengupas tentang sesuatu hal yang berbau edukasi, berjudul : "Membentuk Mental". 

Sampai terbitan surat kabat berikutnya, sudah ada begitu banyak tanggapan masuk memenuhi rubrik artikel tersebut. Namun berikut kuketahui dalam larik deretan nomor dua, selalu ada sebuah kolom yang kosong, menyusul dibagian bawahnya ada begitu banyak opini kemukaan yang masuk. Aku tersenyum menyaksikannya, ketika aku tahu kolom kosong nomor dua adalah sebuah kolom yang diperuntukkan buat tanggapanku. 

Mengetahui begitu suksesnya rekomendasi artikel saya minggu lalu, hingga tim redaksi menantikan opiniku yang dianggapnya mampu membawa perdebatan lebih menarik. Namun saat ini aku lagi enggan menyalurkan opiniku buat beragumentasi, karna bagiku semua itu tidaklah duratif. Seperti kata seorang dosen asal jakarta yang menyinggung artikelku beberapa bulan lalu, bahwa semua hal itu ada expired-nya, adakalanya akan habis sebelum masa tenggangnya.
                                                                                                    
Bojonegoro 29 Sep 2015
Read more

Rabu, 12 Juli 2017

Puisi-Puisi Karya Taufik Ismail Terlengkap

Kumpulan Puisi Taufik Ismail Lengkap

DENGAN PUISI AKU

(Taufiq ismail)
Dengan puisi aku bernyanyi
Sampai senja umurku nanti
Dengan puisi aku bercinta
Berbaur cakrawala
Dengan puisi aku mengenang
Keabadian Yang Akan Datang
Dengan puisi aku menangis
Jarum waktu bila kejam mengiris
Dengan puisi aku mengutuk
Napas jaman yang busuk
Dengan puisi aku berdoa
Perkenankanlah kiranya


Sebuah Jaket Berlumur Darah
Sebuah jaket berlumur darah
Kami semua telah menatapmu
Telah pergi duka yang agung
Dalam kepedihan bertahun-tahun.

Sebuah sungai membatasi kita
Di bawah terik matahari Jakarta
Antara kebebasan dan penindasan
Berlapis senjata dan sangkur baja
Akan mundurkah kita sekarang
Seraya mengucapkan ’Selamat tinggal perjuangan’
Berikara setia kepada tirani
Dan mengenakan baju kebesaran sang pelayan?.

Spanduk kumal itu, ya spanduk itu
Kami semua telah menatapmu
Dan di atas bangunan-bangunan
Menunduk bendera setengah tiang.

Pesan itu telah sampai kemana-mana
Melalui kendaraan yang melintas
Abang-abang beca, kuli-kuli pelabuhan
Teriakan-teriakan di atas bis kota, pawai-pawai perkasa
Prosesi jenazah ke pemakaman
Mereka berkata
Semuanya berkata
Lanjutkan Perjuangan.


Syair Orang Lapar

Lapar menyerang desaku
Kentang dipanggang kemarau
Surat orang kampungku
Kuguratkan kertas
Risau
Lapar lautan pidato
Ranah dipanggang kemarau
Ketika berduyun mengemis
Kesinikan hatimu
Kuiris
Lapar di Gunungkidul
Mayat dipanggang kemarau
Berjajar masuk kubur
Kauulang jua
Kalau.


Karangan Bunga
Tiga anak kecil
Dalam langkah malu-malu
Datang ke salemba
Sore itu.

Ini dari kami bertiga
Pita hitam pada karangan bunga
Sebab kami ikut berduka
Bagi kakak yang ditembak mati
Siang tadi.


Salemba

Alma Mater, janganlah bersedih
Bila arakan ini bergerak pelahan
Menuju pemakaman
Siang ini.

Anakmu yang berani
Telah tersungkur ke bumi
Ketika melawan tirani.


Memang Selalu Demikian, Hadi
Setiap perjuangan selalu melahirkan
Sejumlah pengkhianat dan para penjilat
Jangan kau gusar, Hadi.

Setiap perjuangan selalu menghadapkan kita
Pada kaum yang bimbang menghadapi gelombang
Jangan kau kecewa, Hadi.

Setiap perjuangan yang akan menang
Selalu mendatangkan pahlawan jadi-jadian
Dan para jagoan kesiangan.

Memang demikianlah halnya, Hadi.


Nasehat-Nasehat Kecil Orang Tua
Pada Anaknya Berangkat Dewasa
Jika adalah yang harus kaulakukan
Ialah menyampaikan kebenaran
Jika adalah yang tidak bisa dijual-belikan
Ialah ang bernama keyakinan
Jika adalah yang harus kau tumbangkan
Ialah segala pohon-pohon kezaliman
Jika adalah orang yang harus kauagungkan
Ialah hanya Rasul Tuhan
Jika adalah kesempatan memilih mati
Ialah syahid di jalan Ilahi.

PUISI MALU (AKU) JADI ORANG INDONESIA
Ketika di Pekalongan, SMA kelas tiga
Ke Wisconsin aku dapat beasiswa
Sembilan belas lima enam itulah tahunnya
Aku gembira jadi anak revolusi Indonesia
Negeriku baru enam tahun terhormat diakui dunia
Terasa hebat merebut merdeka dari Belanda
Sahabatku sekelas, Thomas Stone namanya,
Whitefish Bay kampung asalnya
Kagum dia pada revolusi Indonesia
Dia mengarang tentang pertempuran Surabaya
Jelas Bung Tomo sebagai tokoh utama
Dan kecil-kecilan aku nara-sumbernyaDadaku busung jadi anak Indonesia
Tom Stone akhirnya masuk West Point Academy
Dan mendapat Ph.D. dari Rice University
Dia sudah pensiun perwira tinggi dari U.S. Army
Dulu dadaku tegap bila aku berdiri
Mengapa sering benar aku merunduk kini
Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak
Hukum tak tegak, doyong berderak-derak
Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, ebuh Tun Razak,
Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza
Berjalan aku di Dam, Champs Élysées dan Mesopotamia
Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata
Dan kubenamkan topi baret di kepala
Malu aku jadi orang Indonesia
Di negeriku, selingkuh birokrasi peringkatnya di dunia nomor satu,
Di negeriku, sekongkol bisnis dan birokrasi
berterang-terang curang susah dicari tandingan,
Di negeriku anak lelaki anak perempuan, kemenakan, sepupu
dan cucu dimanja kuasa ayah, paman dan kakek
secara hancur-hancuran seujung kuku tak perlu malu,
Di negeriku komisi pembelian alat-alat berat, alat-alat ringan,
senjata, pesawat tempur, kapal selam, kedele, terigu dan
peuyeum dipotong birokrasi
lebih separuh masuk kantung jas safari,
Di kedutaan besar anak presiden, anak menteri, anak jenderal,
anak sekjen dan anak dirjen dilayani seperti presiden,
menteri, jenderal, sekjen dan dirjen sejati,
agar orangtua mereka bersenang hati,
Di negeriku penghitungan suara pemilihan umum
sangat-sangat-sangat-sangat-sangat jelas
penipuan besar-besaran tanpa seujung rambut pun bersalah perasaan,
Di negeriku khotbah, surat kabar, majalah, buku dan
sandiwara yang opininya bersilang tak habis
dan tak utus dilarang-larang,
Di negeriku dibakar pasar pedagang jelata
supaya berdiri pusat belanja modal raksasa,
Di negeriku Udin dan Marsinah jadi syahid dan syahidah,
ciumlah harum aroma mereka punya jenazah,
sekarang saja sementara mereka kalah,
kelak perencana dan pembunuh itu di dasar neraka
oleh satpam akhirat akan diinjak dan dilunyah lumat-lumat,
Di negeriku keputusan pengadilan secara agak rahasia
dan tidak rahasia dapat ditawar dalam bentuk jual-beli,
kabarnya dengan sepotong SK
suatu hari akan masuk Bursa Efek Jakarta secara resmi,
Di negeriku rasa aman tak ada karena dua puluh pungutan,
lima belas ini-itu tekanan dan sepuluh macam ancaman,
Di negeriku telepon banyak disadap, mata-mata kelebihan kerja,
fotokopi gosip dan fitnah bertebar disebar-sebar,
Di negeriku sepakbola sudah naik tingkat
jadi pertunjukan teror penonton antarkotacuma karena sebagian sangat kecil bangsa kita
tak pernah bersedia menerima skor pertandingan
yang disetujui bersama,Di negeriku rupanya sudah diputuskan
kita tak terlibat Piala Dunia demi keamanan antarbangsa,
lagi pula Piala Dunia itu cuma urusan negara-negara kecil
karena Cina, India, Rusia dan kita tak turut serta,
sehingga cukuplah Indonesia jadi penonton lewat satelit saja,
Di negeriku ada pembunuhan, penculikan
dan penyiksaan rakyat terang-terangan di Aceh,
Tanjung Priuk, Lampung, Haur Koneng,
Nipah, Santa Cruz dan Irian,
ada pula pembantahan terang-terangan
yang merupakan dusta terang-terangan
di bawah cahaya surya terang-terangan,
dan matahari tidak pernah dipanggil ke pengadilan sebagai
saksi terang-terangan,
Di negeriku budi pekerti mulia di dalam kitab masih ada,
tapi dalam kehidupan sehari-hari bagai jarum hilang
menyelam di tumpukan jerami selepas menuai padi.
Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak
Hukum tak tegak, doyong berderak-derak
Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak,
Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza
Berjalan aku di Dam, Champs Élysées dan Mesopotamia
Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata
Dan kubenamkan topi baret di kepala
Malu aku jadi orang Indonesia.1998
Kita Adalah Pemilik Sah Republik Ini Karya Taufik Ismail
Tidak ada pilihan lain
Kita harus
Berjalan terus
Karena berhenti atau mundur
Berarti hancur
Apakah akan kita jual keyakinan kita
Dalam pengabdian tanpa harga
Akan maukah kita duduk satu meja
Dengan para pembunuh tahun yang lalu
Dalam setiap kalimat yang berakhiran
“Duli Tuanku ?”
Tidak ada lagi pilihan lain
Kita harus
Berjalan terus
Kita adalah manusia bermata sayu, yang di tepi jalan
Mengacungkan tangan untuk oplet dan bus yang penuh
Kita adalah berpuluh juta yang bertahun hidup sengsara
Dipukul banjir, gunung api, kutuk dan hama
Dan bertanya-tanya inikah yang namanya merdeka
Kita yang tidak punya kepentingan dengan seribu slogan
Dan seribu pengeras suara yang hampa suara
Tidak ada lagi pilihan lain
Kita harus
Berjalan terus.
1966
Membaca Tanda-Tanda Kary Taufiq Ismail
Ada sesuatu yang rasanya mulai lepas
dari tangan
dan meluncur lewat sela-sela jari kita
Ada sesuatu yang mulanya
tak begitu jelas
tapi kini kita mulai merindukannya
Kita saksikan udara
abu-abu warnanya
Kita saksikan air danau
yang semakin surut jadinya
Burung-burung kecil
tak lagi berkicau pagi hari
Hutan kehilangan ranting
Ranting kehilangan daun
Daun kehilangan dahan
Dahan kehilangan
hutan
Kita saksikan zat asam
didesak asam arang
dan karbon dioksid itu
menggilas paru-paru
Kita saksikan
Gunung memompa abu
Abu membawa batu
Batu membawa lindu
Lindu membawa longsor
Longsor membawa air
Air membawa banjir
Banjir membawa air
air
mata
Kita telah saksikan seribu tanda-tanda
Bisakah kita membaca tanda-tanda?
Allah
Kami telah membaca gempa
Kami telah disapu banjir
Kami telah dihalau api dan hama
Kami telah dihujani abu dan batu
Allah
Ampuni dosa-dosa kami
Beri kami kearifan membaca
Seribu tanda-tanda
Karena ada sesuatu yang rasanya
mulai lepas dari tangan
dan meluncur lewat sela-sela jari
Karena ada sesuatu yang mulanya
tak begitu jelas
tapi kini kami
mulai
merindukannya.
1982
Puisi Kembalikan Indonesia Padaku (Taufik Ismail)
Hari depan Indonesia adalah dua ratus juta mulut yang menganga,
Hari depan Indonesia adalah bola-bola lampu 15 wat,
sebagian berwarna putih dan sebagian hitam,
yang menyala bergantian,
Hari depan Indonesia adalah pertandingan pingpong siang malam
dengan bolayang bentuknya seperti telur angsa,
Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang tenggelam
karena seratus juta penduduknya,
Kembalikan
Indonesia
padaku
Hari depan Indonesia adalah satu juta orang main pingpong siang malam
dengan bola telur angsa di bawah sinar lampu 15 wat,
Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang pelan-pelan tenggelam
lantaran berat bebannya kemudian angsa-angsa berenang-renang di atasnya,
Hari depan Indonesia adalah dua ratus juta mulut yang menganga,
dan di dalam mulut itu ada bola-bola lampu 15 wat,
sebagian putih dan sebagian hitam, yang menyala bergantian,
Hari depan Indonesia adalah angsa-angsa putih yang berenang-renang
sambil main pingpong di atas pulau Jawa yang tenggelam
dan membawa seratus juta bola lampu 15 wat ke dasar lautan,
Kembalikan
Indonesia
padaku
Hari depan Indonesia adalah pertandingan pingpong siang malam
dengan bola yang bentuknya seperti telur angsa,
Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang tenggelam
karena seratus juta penduduknya,
Hari depan Indonesia adalah bola-bola lampu 15 wat,
sebagian berwarna putih dan sebagian hitam, yang menyala bergantian,
Kembalikan
Indonesia
padaku
Paris, 1971
Read more